February 4th, 2008 by darmawaneko
Aku belajar untuk tidak bersikap mengeluh, tapi jangan artikan itu bentuk loyalitasku terhadapa sesuatu, selama tidak ada keadilan (adil; memberikan sesuatu sesuai dengan haknya, seperti yang aku pelajari di buku P-M-P tatkala aku masih berseragam putih biru) loyalitas tidak akan pernah ada. Yang ada adalah asas manfaat. semacam kolaborasi saling menguntungkan dengan penuh perhitungan agar jangan sampai dirugikan.
Meski yang aku alami adalah sepercik titik dalam kamus besar bahasa, semoga aku bisa menjadi pemenang terhadap diriku sendiri dalam menelusuri tiap sudut ruangku.kabulkan doa ku ya…Gusti, itu saja dulu..tetapi ini bukan wujud aku mengeluh lho..!
Posted in Uncategorized | Comments Off
January 28th, 2007 by darmawaneko
TEMANGGUNG - Jumono (48), orang tua almarhum Wiwid Agus Siyanto (27), benar-benar shock atas peristiwa pembunuhan yang menimpa anaknya. Sebab, almarhum yang tinggal di Dukuh Seman, Desa Wonosari, Kecamatan Bulu, Temanggung itu adalah anak satu-satunya dan sedang berencana melangsungkan perkawinan pada akhir tahun ini.
Saat jenazah Agus dibawa pulang, Sabtu malam sekitar pukul 23.00, Jumono beberapa kali pingsan sehingga menambah suasana lebih menyedihkan.
Sampai di Dukuh Seman, jenazah langsung disemayamkan di Masjid. Setelah menjalani proses pemakaman, malam itu juga sekitar pukul 24.00 jenazah Agus langsung dimakamkan.
“Kami baru tahu kalau Agus tewas setelah Polisi menangkap Muteng (Mulyadi). Ini benar-benar keterlaluan, karena para pelaku (Mulyadi, Bejo, dan Sukur) adalah para tetangga sedesa juga teman akrab si AGUS,” kata sejumlah warga Dukuh Seman. motif pembunuhan yang dilakukan mereka diduga adalah salah paham
Saat polisi melakukan penggeledahan rumah Bejo, mereka menemukan pistol rakitan jenis Revolver dan 17 peluru aktif kaliber 5,56 serta sebuah pisau.
Namun pihak keluarga yang ditanyai petugas mengaku tidak tahu-menahu kalau Bejo menyimpan sejumlah barang berbahaya tersebut. Pistol yang ditemukan di rumah Bejo itu kini masih dalam penyelidikan.
…………..Tatkala seorang sahabat melukai kita, semestinya kita harus menulisnya diatas pasir, agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut, dan bila sesuatu yang luar biasa baik terjadi dari sahabat terhadap kita, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tulisan tersebut tidak bisa hilang tertiup angin.” Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Sikap saling memaafkan dan lupakan masalah yang telah lalu ada baiknya diterapkan dalam melangkah diatas waktu . Belajar menulis diatas pasir.gampang gampang susah memang..!
Posted in Uncategorized | 1 Comment »
September 27th, 2006 by darmawaneko
Pertama
Awal
Satu
Mulai
Setelah itu..
kembali waktu berlaku seperti biasa
Posted in Uncategorized | 1 Comment »